Senin, 08 Desember 2008

Sujarah Masjid Saka Tunggal (Idul Adha 1429H part 2)





Berikut, kutipan lengkap dari tulisan Hunny Han tentang perjalanan religi kami ke Masjid Saka Tunggal...

Sujarah, Tradisi Syukuran Ala Warga Cikakak

Pagi masih belum beranjak saat Tarkim (17) berangkat dari rumahnya di Dusun Gandarusak, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, bersama ibunya. Senin (8/12) pagi itu, Tarkim dan ibunya, seperti halnya warga Desa Cikakak lainnya hendak menuju rumah adat, mengikuti Sujarah, yaitu tradisi syukuran yang digelar tiap hari Kamis atau Senin sebelum Hari Raya Idul Adha.
Jalan kaki menempuh jarak 3 km dengan rute naik turun tidak masalah bagi Tarkim walau di pundaknya menggantung pikulan berbeban dua bakul berisi beraneka sayuran, kelapa, tempe, gula merah, dan kebutuhan dapur lainnya.
“Sudah biasa kok membawa barang sambil jalan kaki ke Dusun Cikakak I. Lagi pula hasil bumi yang saya bawa hari ini memang sangat diperlukan untuk Sujarah,” tutur Tarkim beberapa saat setelah sampai di rumah adat (warga setempat menyebutnya rumah kunci), yang terletak di Dusun Cikakak I, yang bersebelahan dengan Dusun Gandarusak.
Hari itu, Sujarah digelar di rumah kunci II yang ditempati salah satu keturunan pendiri Masjid Saka Tunggal, yang terletak persis di depan rumah kunci II tersebut. Mesjid Saka Tunggal merupakan salah satu mesjid tertua di Jawa yang dibangun pada tahun 1288 Masehi.
Rumah Kunci II ditempati Sudiman dan istrinya, Jami. Selain rumah kunci II, di dekat Mesjid Saka Tunggal juga terdapat dua rumah kunci lainnya, yakni rumah kunci I yang ditempati Sopani, dan rumah kunci III yang ditempati Bambang. Sudiman, Sopani, dan Bambang adalah tiga keturunan kesepeluh Mbah Mustolih, pendiri Masjid Saka Tunggal.
Selain menjadi imam mesjid Saka Tunggal, ketiga keturunan tersebut juga menjadi wali adat bagi warga Cikakak I dan sekitarnya yang masih memegang teguh tradisi Islam-Jawa ala Masjid Saka Tunggal. Ketiganya sangat dihormati oleh warga setempat.
Upacara Sujarah adalah satu dari sekian banyak tradisi lama yang masih dilestarikan warga Desa Cikakak. Sujarah adalah kegiatan berdoa bersama yang dilakukan warga setempat pada hari Senin atau Kamis sebelum Hari Raya Idul Adha. Dalam kegiatan ini, warga membawa berbagai bahan makanan mulai dari sayur mayur, kelapa, minyak goreng, beras, mie, gula, hingga ayam.
Saking banyaknya bawaan yang dibawa, tiap orang memikulnya di pundak dengan wadah dua bakul. Warga yang datang di upacara tak hanya dari Dusun Cikakak, tapi juga Dusun Gandarusak yang jaraknya 3 km dari dusun tersebut. Untuk menuju rumah kunci, tempat digelarnya upacara Sujarah, hanya ada satu pilihan, yakni berjalan kaki. Mereka melalui bukit, hutan jati, dan kebun.
Pikulan berisi sayur dan lain sebagainya biasanya dibawa oleh kaum pria, sedangkan perempuannya membawa satu ekor ayam. Bakul berisi sayur mayur dan bawaan lainnya lalu dibawa langsung ke dapur di rumah kunci. Di dalam dapur sudah ramai belasan perempuan yang bertugas memasak bahan-bahan makanan yang dibawa warga. Ada yang menanak nasi, mengolah sayuran, menggoreng kerupuk, hingga membuat kue tradisional.
Kaum pria masuk ke ruang utama dari bangunan rumah kunci. Sedang perempuan di ruang dekat dapur. Sambil menunggu masakan selesai, mereka berbincang-bincang.
Setelah masakan selesai, upacara pun dimulai. Pemimpin adat, dalam hal ini Sudiman, kemudian memimpin doa-doa berbahasa Jawa Banyumasan yang dipadu dengan pembacaan tahlil.. Selain ditujukan untuk keselamatan dan kesejahteraan warga dusun setempat, doa juga ditujukan untuk sanak saudara mereka di perantauan. Untuk yang terakhir ini, masing-masing warga menyampaikan nama-nama yang perlu di doakan.
“Dengan didoakan ini, saudara kami yang jauh-jauh di sana dapat selamat, mendapatkan rezeki dan diberkahi sama Allah,” ujar Jami, istri Sudiman.
Usai berdoa bersama, acara kemudian dilanjutkan dengan makan-makan. Setelah itu, makanan yang masih tersisa dibawa pulang atau dibagi-bagikan ke tetangga sekitar.
Menurut Sopani, imam Mesjid Saka Tunggal, tradisi Sujarah adalah tradisi turun temurun warga Cikakak yang usianya sama dengan berdirinya Mesjid Saka Tunggal. Pendiri masjid yang kini menjadi salah satu cagar budaya di Banyumas tersebut mewariskan tradisi tersebut sebagai upaya memadukan unsur budaya lokal, yaitu Hindu dengan ajaran Islam.
Hal tersebut senafas dengan Masjid Saka Tunggal yang bangunannya merupakan akulturasi Islam-Hindu. Unsur Hindu pada masjid tersebut masih dapat dilihat pada atap ijuk, serta tanda cakra mandala di sebelah ruang imaman. Adapula saka tunggal yang menjadi per lambang kiblat papat lima pancer, kepercayaan jawa yang meyakini empat nafsu manusia yang mengelilingi satu pusat diri.
“Tradisi Sujarah ini adalah warisan dari nenek moyang kami. Seperti inilah kami memohon kepada Allah. Intinya adalah berdoa, dan karena cara yang diwariskan ke kami seperti ini, kami melestarikannya,” tutur Sopani yang juga menjadi sesepuh warga setempat.
Sujarah merupakan tradisi unik yang masih bertahan di komunitas sekitar Masjid Saka Tunggal hingga kini. Selain sebagai sarana memanjatkan doa kepada Tuhan, tradisi ini juga merupakan bentuk kebersatuan warga Cikakak dengan alam sekitar dan rasa syukur mereka atas rezeki yang dilimpahkan Sang Pencipta.
Kebersatuan dengan alam ini mereka wujudkan dengan membawa hasil bumi di sekitar mereka untuk kegiatan upacara doa bersama ini. Berjalan kaki dari rumah juga merupakan cara mereka untuk bersyukur dan menghargai alam dengan cara yang bersahaja.
Satu ciri khas lain yang kental dengan Masjid Saka Tunggal adalah keberadaan ratusan monyet di sekitar mesjid. Konon, kera-kera tersebut tinggal di sekitar mesjid sejak awal mesjid yang dibangun pada zaman Kerajaan Singosari tersebut ada. Keberadaan mereka menambah nuansa unik dan mistis masjid di sekitar masjid. Apalagi, di sebelah selatan masjid pemandangan hijau royo-royo dari hutan desa masih terjaga, begitu pula dengan sungai kecil yang mengalir di bawahnya.
Tradisi Sujarah dan nilai-nilai yang ada di dalamnya menjadi jawaban betapa kuatnya masyarakat di Cikakak menjaga tradisi luhur mereka. Tradisi yang menyatukan nilai kebersahajaan, penyatuan dengan alam, rasa syukur, dan penyerahan diri kepada Tuhan Sang Pencipta Alam. (Han2008)

mAsjid Saka Tunggal untuk Idul Adha 1429 H






Purwokerto, 8 Desember 2008

Assalamualaikum bloggers mania...
es specially for destination milik heppilicious@gmail.com
Beginilah beberapa foto yang berhasil kami ambil setelah melaknsanakan ibadah Idul Adha 1429 H pada tahun 2008 ini.
Perlu dicatatat, Idul Adha ini merupakan kali pertama kami menjalankannya bersama-sama, di mana ketika kepulangan ke rumah masih2 tidaklah memungkinkan bagi kami. Baik dari sisi tersedianya waktu, biaya (kalo aku), dan tenaga. Dan akhirnya kami memutuskan untuk tetap tinggal di satu tempat dan menjalankannya bersama-sama.
Well, merupakan sebuah impian bila kita mampu dan diberi kesempatan untuk menjumpai Idul Adha yang kesekian kalinya dalam perjalanan umur kita khan friends? Terlebih, diberi anugrah dari sang Khalik untuk menjalankan bersama-sama dengan orang yang paling dekat dengan kita selain, orang tua dan sanak keluarga lainnya. Dan inilah tahun pertama kami merasakannya bersama-sama, dan kami bersyukur dapat melewatinya tanpa aral merintang. Alhamdulillah....

Adapun pemilihan tempat sholat, kami telah memutuskan untuk sholat di Masjid yang diyakini masyarakat setempat sebagai Masjid tertua yang pernah didirikan dan berfungsi sebagai tempat ibadah bagi penduduk maupun traveler (halah, Indonesianya apa ya bro?) yang hendak beribadah kepada Allah SWT. Dan Masjid ini pun bernama Masjid Saka Tunggal, bertempat di desa Cikakak I, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Mungkin, tidak pernah terbersitkan oleh kita sebagai orang awam, bahwasanya ada Masjid tertua di Indonesia, khususan Jawa Tengah selain Masjid Demak. Namun, bukan melegitimasi siapa yang paling tua, it is really not a big thing to be discussed...Secara, semakin banyak mengetahui cagar budaya di tempat sekitar kita akan menumbuhkan kepekaan akan menjaga dan sekaligus mencintai warisan budaya Nenek moyang, yang bisa2 saja jauh lebih beradab dari manusia tempo sekarang. Sekali lagi, ini bukan meruntuhkan pengetahuan kita bahwa ada Masjid yang sebenarnya jauh lebih tua dari Masjid yang kita ketahui sebelumnya.

Berawal dari niatan tersebut, yang kemudian tidak ditunjang dengan kesiapan yang matang...Kami pun berangkat di pagi hari (pukul setengah enam pagi WIB) dengan niat dan tekad baru "kalo gak nyampe tempat tujuan, kami akan akan berenti di masjid/lapangan setempat". Dan benarlah, selain mind set yang kuat, dan waktu yang tak mencukupi, kami pun memutuskan untuk berhenti di lapangan di daerah Cilongok Kecamatan Wangon, Kab. Banyumas. Dan dari sana, aku kembali memasukkan daftar kesukaan my beloved fiance bahwasanya "pakne paling suka kalo sholat di lapangan terbuka, terleih dengan pemandangan pegunungan di sekitarnya"

Hmm, I ve never sholat on that kind of placed before actually...Secara, dimana nya Kalimantan ada lapangan bola yang alih fungsi menjadi tempat sholat? yang ada jalan raya dijadikan tempat tambahan buat sholat. Sekali lagi, kami bersyukur bisa mendapati tempat sholat yang Hunny ku suka.

Perjalanan kami lanjutkan dengan niatan semula, untuk mengunjungi Masjid Saka Tunggal...kurang lebih 15 menit dari tempat sholat, kami akhirnya sampai juga ke tempat tujuan.

Sebagai orang yang dibesarkan di tempat yang ramai,padat, dan masuk kategori perkampungan aku sangat menghargai masyarakat yang bertempat tinggal disana. Aku bilang begini, agar bloggers kelak bila sempat menyusul kesana,harus benar2 mencamkan pesanku ini..'jangan lupa beri senyuman dan sapa ramah tiap bertemu dengan penduduk sekitar yang berada di pinggir jalan...Secara, jalan yang kami lewati waktu itu bukan kategori jalan lebar dan beraspal, apalagi bila kita mengendari jenis mobil yang lumayan besar.

Setiba disana, sepi...kami hanya mendapati segerombol monyet (iya monyet!!!!) Seketika aku langsung teringat dengan Pulau Kembang, salah satu destination yang unik bagi pelancong yang berkunjung di Banjarmasin, kota kelahiranku. Dan selayaknya hewan2 yang bebas berekspresi, mereka berkeliaran disekitar Masjid dan perumahan yang ada di sekitar tempat beribadah kaum Muslim tersebut. "Unik, dan...ada aura tersendiri yang dapat kurasakan ..." Bukankah biasanya monyet2 yang berkeliaran, berada di sekitar pura, atau candi2? Itu si pertanyaan yang paling pertama ki pertanyakan. Begitu melemparkan pandangan ke sekitar dengan lebih jeli, aku baru sadar, kalo ternyata tidak jauh dari MAsjid, ada area pemakaman tetua masyarakat, lengkap dengan pohon2 yang menyerupai hutan. Ya ya...bisa jadi mereka berasal darisana bukan? :)

Selain mendapati keunikan dan kesehajaan dari segi bangunan...bangunan joglo dengan atap yang ditutupi ijuk, pemilihan kayu jati tua untuk bangunan utama..dan mimbar? hiks, itu lah bloggerss....Aku gak bisa masukkk!!! di kunci, dan sang juru kunci sedang ada acara ketika kami tiba di sana. Acara apa? itulah yang akan diangkat hunny ku dalam perjalanan religi kami...Budaya kenduren, alias selamatan yang melibatkan penduduk sekitar dan bukan hanya kehadiran nya saja, namun, hasil2 bumi yang dibawa dengan cara dipikul dari tempat tinggal mereka masing2...hingga ke rumah adat yang diyakini dan dinamakan "rumah kunci nomer 3". U will find it more detail throu hunny's written.

Dan satu hal yang sangat teramat baru aku dengar dan aku ketahui langsung dari narasumber, yang tidak lain adalah nyonya rumah kunci nomor 3 ini...Ibu Sudiman, bahwa hari ini, 10 Djulhijah, atau 8 Desember 2008, penduduk setempat BELUM merayakan Idul Adha 1429 H. Dan dalam perhitungan kalender leluhur mereka, Idul Adha 1429 H ini jatuh pada hari Rabu besok, 10 Desember 2008. +_+, *=*.....No comment (long 'o' sounds...)

"Teramat beruntung bukan, kami tidak memaksakan keinginan sholat di Masjid tersebut dengan waktu yang tersisa???"

Well, Masjid Soka Tunggal memang bukan masjid yang patut dibandingkan dengan Masjid Kubah emas di Jakarta, namun bisa menjadi suatu cagar budaya yang santun, jauh dari pengaruh2 perkembangan budaya di era harga BBM yang sedang dimainkan oleh pemerintah saat ini, dan yang yang terpenting adalah, adanya kebersamaan dalam sebuah kekerabatan dengan kepercayaan tersendiri akan semangat penghormatan dan gotong royong dalam menyelenggarakan sebuah ritual budaya yang mereka namakan 'sojaroh' sebuah acara selamatan yang diselenggarakan tiap bulan2 Ramadhan dan Bulan Haji, yang disepakati bersama dan biasanya jatuh pada hari Senin ataupun Kamis, yang kemudian di selenggarakan di rumah adat yang dipercaya masih keturunan leluhur Desa yang masih disegani oleh penduduk setempat. (Hep2008)

Hunny, once again, u made me open my eyes trou our destinations...

Love u for always, the ultimated soulmate of Heppi Lestari.Period.

Rabu, 03 Desember 2008

Srandil dan Sawah nya bapaknya...:)






Foto-foto di atas sebenernya merupakan rangkaian perjalanan kami menuju pusat kerajinan bambu yang diolah dan dijadikan beberapa tempat yang dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga seperti, tong laundry, vas bunga, tempat hantaran lamaran (yang kami beli ini guys..), dan beraneka tempat unik yang bisa menghiasi tempat tinggal kita menjadi lebih...tematik.
Nah, dikarenakan jarak perjalanan dari Purwokerto menuju Cilacap, dan Cilacap kota menuju tempat yang dimaksud, sengaja kami tidak menyia2nyiakan pemandangan yang telah dianugrahkan pada cipataan Sang Khalik yang bisa menikmatinya, dan salah satu diantaranya adalah kami. :)

Sejatinya, pengambilan foto di daerah persawahan bukanlah kali pertama untukku. Mengingat dulu, ketika sama2 dalam perjalanan jalan2, aku juga pernah memanfaatkan moment tersebut dengan mengambil sawah sebagai background foto terfavorit yang pernah aku buat...I love green, and my family does...

Sebagai bocoran, foto koleksi sawah ini, akan kami jadikan foto pre-wedding kami kelak lho...hehehe...

Maroon...without 5..:p






Maroon...
What can I share about this place...
Pertama kali kami mendengar tempat wisata ini, bermula dari proyek pencarian referensi Horison destination kala itu. Yang kemudian kami survey da ambil beberapa foto-foto disana. Walau bernada pesimis, kami memutuskan tetap memasukkan dalam itenary yang bisa2 saja dipilih sebagai salah satu destination bagi klien kami yang menginginkan wisata bagi perusahaan mereka. Kemudian, aku juga tidak lupa mengajak hunnyku untuk turut melihat secara langsung Pantai yang sedang 'happening' dikunjungi oleh masyarakat setempat, maupun masyarakat sekitar Semarang.

YAng jelas, sesampainya disana, aku si komentarnya simple aja, "oke juga untuk rekreasi dalam kota" dan pengunjungnya pun kala itu sangat banyak mengingat di lakukan untuk mengisi liburan akhir pekan. Dan semisal membahas tentang kekurangan dari tempat ini, siap2 kena debu dan mencuci alat transportasi anda ya...

PS; Highly recommended, bagi keluarga sekalian buat piknik dan makan bekal dari rumah, OK bgt! :) Selamat piknik!

Goes to serious relationship...JAkarta, the very first step of our destination..







Tepatnya pada pernikahan antara saudara sepupu ku dari pihak Bapak, mas Bayu, dan mbak dinda. Kami melaksanakan perjalanan jauh ini bersama-sama untuk kali pertama. Well, aku bilang pertama kali, dan merupakan awal mula keseriusan kami dalam menjalin hubungan, disebabkan tidak lain karena aku gak pernah mengajak teman laki2 ku untuk turut menghadiri dalam sebuah acara pernikahan saudara2 ku. Terlebih, dengan menempuh perjalanan jauh bersama-sama terlebih dahulu dengan menggunakan kendaraan pribadi.

HAl yang terpintas kala hunny han menyanggupi ajakan ku adalah, 'he's serious with me'..mengingat aku mengajaknya pun engga basa-basi, 'kamu mau kenalan dengan orang tua ku? ayuk ikutan dan antarkan aku ke Jakarta'..dan dia bilang iya. Wala diantara jarak kesanggupan nya dan pelaksanaannya masih ada jeda, aku masih selalu menyanyakan akan keyakinannnya akan perjalanan kami tersebut. Dan dia pun tak bergeming sedikit pun akan kesanggupannya tersebut.

Ketika sudah diumumkan bahwa keluarga Hawa akan turut serta, tadinya aku sudah mewanti-wanti dalam hati, perjalanan ini adalah milik ku bersama han, dan tidak ada yang boleh merecoki, alias ngompreng! (:P)..ya iya lah, perjalanan jauh ini kan sama aja merupakan rentang waktu panjang (dan mungkin melelahkan mengingat aku gak bisa diajakin gantian nyetir) yang akan kulalui bersama orang yang saat itu belum aku kenal dengan dekat. Secara logika, masak iya ada orang lain disana yang bakal jadi tukang catet? hehehhe...dan dengan segala jenis trik, akhirnya keluarga Hawa aku arahkan untuk naik travel saja, mengingat aku pun tidak dapat menghadiri prosesi pernikahan mulai dari rentetan lamaran, hingga ke ramah tamah keluarga besan. Dan akhirnya, aku dan han berangkat menuju kediaman Pakde ku di daerah Ciputat.

Well, ada cerita yang terselip disini, di mana anak lalki2 Opa Oma, mas Rick sedang mengadakan perjalanannya dalam rangka "Jak jazz" dan mereka merupakan salah satu partisipan dengan mengusung grup musik bernama "TRIBA".

Ada janji yang tak tertepati kala itu....janji untuk singgah ke Hilton, tempat mereka diinapkan oleh panitia. Aku benar2 gak menyangka bila saat itu, aku dan han akan menjumpai kemacetan luar biasa, ditambah dengan...padatnya acara dari pernikahan mas Bayu dan Mbak Dinda yang terbilang paling mewah diantara pesta pernikahan saudara2 yang pernah ada.

Bebrulang kali telpon telah tersambung dari mas Rik dan handphone milik aku. Tapi, apa mau dikata....aku pun tak dapat meminta lebih lagi..karena pada awal kedatangan ku di wilayah JAkarta pun, terbilang mepet dan larut malam. Mengingat telpon orang tua ku yang tak kunjung berhenti mengira anak putri mereka menghilang ntah kemana...YAh, dan beberapa keluarga lain yang mengirim sms meminta agar jangan mampir mana-mana dulu, yang penting setor muka dulu..karena di kediaman Pakde, aku dan sosok seorang Han telah menjadi bahan perbincangan renyah di keluarga. Maklumlah, pastilah mereka ngayem2in orang tua agar tak cemas anak putri mereka sedang dibawa jenis pria seperti apa kala itu. Aku bahkan, tidak menyangka akan terjadi se histeria itu...Mungkin, sudah lama tak terdengar kabar siapa pria yang dekat dengan ku sejak mantan pelajar IPDN itu.

Sedikit banyak, perjalanan menjadi sedikit lebih klimaks karena adanya ketegangan antara mencari jalan menuju Ciputat, dan posisi Hunny Han untuk menulis sekaligus menyetor berita untuk penerbitan esok harinya (sebagai seorang jurnalis, walau hari Minggu, Hunny tetap harus memberikan berita tempat dia bertugas). Yang kemudian kami memutuskan untuk mencari sambungan internet via hot spot. Dan sambil menunggu Hunny han mengetik, aku pun bergerilya mencari makan, mengingat kami belum menelan makanan besar sedikitpun selama 5 jam terakhir...Bila di runut, sebenarnya tidak ada acara yang tidak penting yang kami lakukan selama perjalanan. Mampir makan, beli telur di brebes, atau pom bensin untuk sholat dan mengisi bahan bakar. Yang kuingat kala itu, untuk selingan yang paling menyenangkan adalah mampir beli degan di pinggir jalan...dan kami memang sempat rehat di bangku bambu milik sang penjual dengan memandang ke arah jalan besar. That's it. Tapi ya memang belum jodoh...akhirnya kami benar2 tidak sempat berjumpa dengan putra laki2 Opa dan Oma, bahkan ketika kami akan bertolak dari Jakarta menuju Purwokerto sebagaimana start perjalanan berdua kami.

Bude dan Pakde PAnjangan memutuskan ikut serta dan minta diturunkan hingga ke stasiun Gambir. Dan perjalanan pulang pun kurasakan semakin sedih dan kecewa mengingat berpisah dengan orang tua ku lagi di tempat Pakde, pun...janji akan menjumpai anak kesayangan Opa yang pernah menjadi tamu long stay di mana aku bekerja dulu, dan hingga dekat sedekat cucu beliau sendiri..menjadi benar2 jauh dari kenyataan...aku ingat banget kata2 mas Rick kala itu...
"I think, this time we're going to meet to each other eventually, heppi"

Kata2 itu memang merupakan sambungan dari ungkapannya di waktu terdahulu ketika aku menelpon mereka di rangkaian Tour musik jazz 2 tahun lalu, di hotel yang sama. MAs rik menyangka 'i thought u call me from the lobby'

Well, sepenggal nila yang aku buat karena tidak dapat memenuhi janji ku kala itu. Dan semenjak itu, hubungan ku dengan Opa dan Oma berbanding terbalik dengan kemajuan hubungan ku dengan Hunny han, yang kini tlah benar2 memiliki hati ini.:)

Perjumpaan hunny han dan kedua orang tua ku itu benar2 menjadi awal dari niat keseriusan seorang jurnalis yang di kenal oleh putri mereka. Dan kemudian dilanjutkan dengan hubungan pertelponan yang rutin dilakukan pakne ku dengan orang tua ku. :)

So guys, bila kalian punya acara yang penting dan melibatkan anggota keluarga inti kalian, jangan asal2an mengajak teman dekat kalian, karena hal itu akan memberikan beribu pertanyaan yang akan dilontarkan kepada temanmu tersebut...khan kasihan kalo mereka belum mau serius, rasanya seperti di todong habis2an. Utarakan keinginan dan harapan kalian terlebih dahulu, bahwa pertemuan atau acara ini sangat penting untuk kalian, dan betapa besarnya harapan mu terhadap hubungan atau image yang baik di hadapan kedua orang tua, atau orang2 yang berpengaruh di kehidupanmu. Dan jangan lupa, berdoa padaNYA, karena skenario yang kamu inginkan pastinya harus seiring dengan garis takdir yang telah disiapkan oleh mu di kemudian hari.

Satu lagi yang penting...ketika perjalanan jauh atau memakan waktu lebih dari 6 jam bersama kekasih, kalian haruslah 'well prepared'. Mengingat, cowok suka males nyiapin hal2 sepele yang menurut mereka, engga terlalu riskan untuk dibawa, karena toh pasti ada di sepanjang jalan nanti...That means, akan menyita waktu perjalanan kalian juga khan? Kemudian, jangan lupa, tidur yang cukup malam sebelum berangkat, agar di perjalanan nanti, kamu bisa tetap terjaga menemani sayang mu untuk menyetir/atau terjaga dalam perjalanan. This is the most thing u must noted!!! (ku akui dengan sadar, aku banyak tidurnya, karena malam sebelumnya aku gak bisa tidur membayangkan betapa menyenangkannya jalan2 ma hunny han esok harinya. Bahkan ketika aku berada di travel smg-pwkt di hari sebelumnya!! :P hehehehe)

Yap! Selamat memikirkan kembali tuk mengajak yang di incar (kalo masih diincar doank), atau yang udah dianggep serius ke acara pernikahan / pertemuan yang melibatkan keluarga besar kalian...Good LUCK!

Gereja Blendugh-Semarang





Baturraden







Baturaden...
Pertama kali mendengar nama tempat wisata yang terletak tidak jauh dari tempat Hunny ku bekerja ini, memang masih jauh dari gambaran, bahwa ternyata tampat ini memiliki tempat yang mayoritas pepohonan, pegunungan..dan perhotelan...atau bisa dibilang pemukiman yang di alih fungsikan menjadi tempat yang di sewa untuk menginap semalam atau beberapa malam.
Seraya melemparkan pandangan ke arah sekitar, kami pun memutuskan untuk memngambil beberapa foto dengan memanfaatkan keindahan panorama ciptaan ALLAH SWT yanga ada di sekitar alam, dan tentunya sweetynya pakne ini! hehehhe...
Oke lah udara yang ada di sekitarnya, apalagi ada sebuah air terjun mini yang aku jumpai di sebuah sudut dari jalan di Baturraden...jadi, kalo dari kita udah berada di sana, kelihatannya terlindung dari arah jalan utama, namun kita bisa melihat dengan jelas mobil/bus yang sedang melintas di depan kami...:)
Nah, kalo berbicara tentang asal muasal penamaan Baturaden ini sendiri, sebenarnya, aku tidak terlalu intersest untuk menceritakan secara detail. KArena memiliki sifat cerita yang membawa takhyul kurang baik bagi yang bertandang kesana. Singkat kata, Baturaden berawal dari perpaduan 2 kata, Batur dan Raden. Yang memiliki arti (bagi orang JAwa pastilah mengerti khan..)..Batur untuk pembantu, dan Raden, untuk panggilan orang-orang yang memiliki status berdarah biru, atau keturunan raja/ratu/ Bangsawan.

Well, more detail, hunny han bisa menambahkan deh mengenai tipikal apa yang patut dibagi informasinya kepada bloggers destination.:)