Berikut, kutipan lengkap dari tulisan Hunny Han tentang perjalanan religi kami ke Masjid Saka Tunggal...
Sujarah, Tradisi Syukuran Ala Warga Cikakak
Pagi masih belum beranjak saat Tarkim (17) berangkat dari rumahnya di Dusun Gandarusak, Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, bersama ibunya. Senin (8/12) pagi itu, Tarkim dan ibunya, seperti halnya warga Desa Cikakak lainnya hendak menuju rumah adat, mengikuti Sujarah, yaitu tradisi syukuran yang digelar tiap hari Kamis atau Senin sebelum Hari Raya Idul Adha.
Jalan kaki menempuh jarak 3 km dengan rute naik turun tidak masalah bagi Tarkim walau di pundaknya menggantung pikulan berbeban dua bakul berisi beraneka sayuran, kelapa, tempe, gula merah, dan kebutuhan dapur lainnya.
“Sudah biasa kok membawa barang sambil jalan kaki ke Dusun Cikakak I. Lagi pula hasil bumi yang saya bawa hari ini memang sangat diperlukan untuk Sujarah,” tutur Tarkim beberapa saat setelah sampai di rumah adat (warga setempat menyebutnya rumah kunci), yang terletak di Dusun Cikakak I, yang bersebelahan dengan Dusun Gandarusak.
Hari itu, Sujarah digelar di rumah kunci II yang ditempati salah satu keturunan pendiri Masjid Saka Tunggal, yang terletak persis di depan rumah kunci II tersebut. Mesjid Saka Tunggal merupakan salah satu mesjid tertua di Jawa yang dibangun pada tahun 1288 Masehi.
Rumah Kunci II ditempati Sudiman dan istrinya, Jami. Selain rumah kunci II, di dekat Mesjid Saka Tunggal juga terdapat dua rumah kunci lainnya, yakni rumah kunci I yang ditempati Sopani, dan rumah kunci III yang ditempati Bambang. Sudiman, Sopani, dan Bambang adalah tiga keturunan kesepeluh Mbah Mustolih, pendiri Masjid Saka Tunggal.
Selain menjadi imam mesjid Saka Tunggal, ketiga keturunan tersebut juga menjadi wali adat bagi warga Cikakak I dan sekitarnya yang masih memegang teguh tradisi Islam-Jawa ala Masjid Saka Tunggal. Ketiganya sangat dihormati oleh warga setempat.
Upacara Sujarah adalah satu dari sekian banyak tradisi lama yang masih dilestarikan warga Desa Cikakak. Sujarah adalah kegiatan berdoa bersama yang dilakukan warga setempat pada hari Senin atau Kamis sebelum Hari Raya Idul Adha. Dalam kegiatan ini, warga membawa berbagai bahan makanan mulai dari sayur mayur, kelapa, minyak goreng, beras, mie, gula, hingga ayam.
Saking banyaknya bawaan yang dibawa, tiap orang memikulnya di pundak dengan wadah dua bakul. Warga yang datang di upacara tak hanya dari Dusun Cikakak, tapi juga Dusun Gandarusak yang jaraknya 3 km dari dusun tersebut. Untuk menuju rumah kunci, tempat digelarnya upacara Sujarah, hanya ada satu pilihan, yakni berjalan kaki. Mereka melalui bukit, hutan jati, dan kebun.
Pikulan berisi sayur dan lain sebagainya biasanya dibawa oleh kaum pria, sedangkan perempuannya membawa satu ekor ayam. Bakul berisi sayur mayur dan bawaan lainnya lalu dibawa langsung ke dapur di rumah kunci. Di dalam dapur sudah ramai belasan perempuan yang bertugas memasak bahan-bahan makanan yang dibawa warga. Ada yang menanak nasi, mengolah sayuran, menggoreng kerupuk, hingga membuat kue tradisional.
Kaum pria masuk ke ruang utama dari bangunan rumah kunci. Sedang perempuan di ruang dekat dapur. Sambil menunggu masakan selesai, mereka berbincang-bincang.
Setelah masakan selesai, upacara pun dimulai. Pemimpin adat, dalam hal ini Sudiman, kemudian memimpin doa-doa berbahasa Jawa Banyumasan yang dipadu dengan pembacaan tahlil.. Selain ditujukan untuk keselamatan dan kesejahteraan warga dusun setempat, doa juga ditujukan untuk sanak saudara mereka di perantauan. Untuk yang terakhir ini, masing-masing warga menyampaikan nama-nama yang perlu di doakan.
“Dengan didoakan ini, saudara kami yang jauh-jauh di sana dapat selamat, mendapatkan rezeki dan diberkahi sama Allah,” ujar Jami, istri Sudiman.
Usai berdoa bersama, acara kemudian dilanjutkan dengan makan-makan. Setelah itu, makanan yang masih tersisa dibawa pulang atau dibagi-bagikan ke tetangga sekitar.
Menurut Sopani, imam Mesjid Saka Tunggal, tradisi Sujarah adalah tradisi turun temurun warga Cikakak yang usianya sama dengan berdirinya Mesjid Saka Tunggal. Pendiri masjid yang kini menjadi salah satu cagar budaya di Banyumas tersebut mewariskan tradisi tersebut sebagai upaya memadukan unsur budaya lokal, yaitu Hindu dengan ajaran Islam.
Hal tersebut senafas dengan Masjid Saka Tunggal yang bangunannya merupakan akulturasi Islam-Hindu. Unsur Hindu pada masjid tersebut masih dapat dilihat pada atap ijuk, serta tanda cakra mandala di sebelah ruang imaman. Adapula saka tunggal yang menjadi per lambang kiblat papat lima pancer, kepercayaan jawa yang meyakini empat nafsu manusia yang mengelilingi satu pusat diri.
“Tradisi Sujarah ini adalah warisan dari nenek moyang kami. Seperti inilah kami memohon kepada Allah. Intinya adalah berdoa, dan karena cara yang diwariskan ke kami seperti ini, kami melestarikannya,” tutur Sopani yang juga menjadi sesepuh warga setempat.
Sujarah merupakan tradisi unik yang masih bertahan di komunitas sekitar Masjid Saka Tunggal hingga kini. Selain sebagai sarana memanjatkan doa kepada Tuhan, tradisi ini juga merupakan bentuk kebersatuan warga Cikakak dengan alam sekitar dan rasa syukur mereka atas rezeki yang dilimpahkan Sang Pencipta.
Kebersatuan dengan alam ini mereka wujudkan dengan membawa hasil bumi di sekitar mereka untuk kegiatan upacara doa bersama ini. Berjalan kaki dari rumah juga merupakan cara mereka untuk bersyukur dan menghargai alam dengan cara yang bersahaja.
Satu ciri khas lain yang kental dengan Masjid Saka Tunggal adalah keberadaan ratusan monyet di sekitar mesjid. Konon, kera-kera tersebut tinggal di sekitar mesjid sejak awal mesjid yang dibangun pada zaman Kerajaan Singosari tersebut ada. Keberadaan mereka menambah nuansa unik dan mistis masjid di sekitar masjid. Apalagi, di sebelah selatan masjid pemandangan hijau royo-royo dari hutan desa masih terjaga, begitu pula dengan sungai kecil yang mengalir di bawahnya.
Tradisi Sujarah dan nilai-nilai yang ada di dalamnya menjadi jawaban betapa kuatnya masyarakat di Cikakak menjaga tradisi luhur mereka. Tradisi yang menyatukan nilai kebersahajaan, penyatuan dengan alam, rasa syukur, dan penyerahan diri kepada Tuhan Sang Pencipta Alam. (Han2008)
















